Lingkungan

Perkebunan Tembakau & Cengkeh

Tembakau dan cengkeh—keduanya merupakan bahan baku istimewa yang terdapat dalam campuran kretek, dapat dibudidayakan dengan mudah di atas tanah serta iklim Indonesia yang unik.

Tembakau

Sekilas, penampilan biji tembakau amat mirip dengan bubuk kopi instan. Karenanya, butiran biji tembakau yang amat halus tersebut harus disimpan di dalam tempat khusus selama 60 hari sebelum disemai di ladang. Selama beberapa minggu, tanah di sekitar benih yang sudah ditanam sebaiknya dipadatkan untuk melindungi benih serta menguatkan akarnya.

Petani tembakau biasanya akan memanen tembakau dengan cara memotongnya menggunakan tangan dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan setelah ditanam. Hasil panen tembakau di atas satu hektar ladang kira-kira adalah 22 lembar daun dikalikan dengan 8000 tanaman.

Cengkeh

Cengkeh tumbuh subur jika ditanam pada tanah yang liat dan subur di tempat beriklim tropis dengan kelembaban tinggi, seperti di Indonesia. Iklim yang lebih sejuk dengan curah hujan merata merupakan tempat ideal yang bisa meningkatkan produksi bunga cengkeh. Cengkeh tumbuh subur pada lahan pertanian dengan curah hujan tahunan antara 150-300 mm dan dapat ditanam pada ketinggian 1500 m di atas permukaan laut.

Pohon cengkeh akan mulai berbunga pada tahun keempat setelah ditanam. Masa berbunga pohon cengkeh bervariasi, antara bulan September-Oktober, dan antara bulan Desember-Januari jika ditanam pada daerah tinggi. Yang dipanen adalah bunga cengkeh pada saat kelopaknya masih tertutup dan berbentuk bulat, sebelum warnanya berubah menjadi merah muda. Pemanenan cengkeh harus dilakukan tanpa merusak cabang pohon, karena nantinya bisa mempengaruhi kesuburan pohon cengkeh. Berat bunga cengkeh yang sudah dikeringkan kira-kira sepertiga berat bunganya pada saat dipetik.